Print this page

Warga Luar Turut Berburu Batu Bacan

Batu bacan palamea. Batu bacan palamea.

Nilai jual batu bacan yang tinggi membuat warga dari pulau dan daerah lain datang ke Bacan. Mereka ada yang berasal dari Manado, Sulawesi Utara, bahkan dari Jawa.

Selama ini, pencarian batu bacan dilakukan dengan alat tradisional. Mereka mencari batu mulia itu di pegunungan, hutan, dan perbukitan. Mereka rela menghadapi berbagai risiko untuk mendapatkan batu tersebut.

Harganya yang tinggi menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencari batu tersebut. Hampir di setiap wilayah di Bacan, termasuk di kota Ternate dan Sofifi, banyak dijumpai para pengrajin batu bacan.

Permintaan yang sangat tinggi membuat para penambang batu atau pemburu batu bacan bekerja siang dan malam untuk mencari bahan berkualitas. Beberapa orang juga mencarinya di luar pulau Kasiruta Barat.

Obi dan Kayoa menjadi daerah sasaran selanjutnya setelah bacan. Hingga sekarang, para pemburu batu pun berani mendaki gunung Soifi, Oba Utara, untuk mendapatkan batu Sigi yang juga sangat unik.

Banyaknya aktivitas penambangan dan perburuan batu, maka batu bacan semakin langka. Apalagi di daerah Palamea, batu bacan semakin sulit diperoleh. Penambang kini harus membutuhkan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan untuk mendapatkannya. Jika pasokan logistic terbatas, tentu mereka harus rela pulang dengan tangan hampa.

Sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, pemerintah Halmahera Selatan kini semakin memperketat perdagangan batu bacan. Pemerintah daerah mendorong warga setempat menjual batu bacan dalam bentuk jadi agar memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan menjual dalam bentuk bahan mentah.

Bupati Halmahera Selatan juga mendorong para pegawai negerinya menggunakan asesoris batu bacan, sebagai langkah untuk mendorong perekonomian masyarakat.