Tasbih Stigi, Primadona Sejak Dahulu Kala Featured

Tasbih stigi laut sudah jadi primadona lama. Tasbih stigi laut sudah jadi primadona lama.

Kayu setigi sangat terkenal dalam dunia pengobatan alternatif atau pun supranatural. Jenis kayu ini sudah jadi primadona sejak jaman dulu.

Karakter serat kayunya yang keras dan anti hama serta mudah mengkilap membuat banyak orang menggunakannya untuk bahan tasbih dan produk lain. Kelangkaan dan keunikan serta fadhilah alaminya membuat setigi menjadi kayu bertuah di urutan kelas atas.

Pohon kayu setigi tergolong kayu langka yang di jaman sekarang cukup sulit ditemui di alam bebas. Pertumbuhan pohon setigi cukup lambat dalam kurun waktu 5-10 tahun hanya berdiameter 5-10 cm saja dan tingginyapun tidak seberapa hanya sekitar 1-2 meter.

Karakter batang setigi berkelok atau tidak lurus mempunyai serat yang alot atau keras lebih keras dari kayu biasa pada umumnya. Keunikan kayu setigi tenggelam di air walau hanya secuil saja, bahkan kualitas kayu setigi yang tua ratusan tahun dari kayu mati ngurak limbah serbuk gergajinya juga tenggelam di air.

Keunikan yang lain adalah mempunyai sifat alami sebagai kayu penyedot bisa hewan atau serangga berbisa (upas-upasan bahasa jawa) dengan cara ditempelkan dibekas sengatan atau gititan “luka baru” kulit bekas gigitan akan terasa tersedot sampai bisa racun tadi keluar atau terhisap oleh kayu setigi. Merupakan cara orang kuno dalam menolong korban patukan ular yang pada saat itu masih sangat jarang tenaga medis.

Setigi untuk sedot bisa adalah jenis setigi yang tumbuh di tanah padat karang bebatuan bukan tanah pasir pesisir pantai, dari kayu yang telah mati tumbang dan lama terpendam dengan kekeringan serta ketuaan kayunya akan lebih maksimal hasilnya.

Keunikan alam yang lain adalah stigi atau setigi,mentigi,cantigi mempunyai aura atau getaran energi metafisika alami mirip benda pusaka tanpa asmaan,isim maupun pengisian khodam. Kayu biasa atau pada umumnya tidak mempunyai energi khowas atau aura seperti stigi yang tergolong kayu bertuah alami.Merupakan sebuah manfaat karunia Allah yang maha ampuh, yang di amati dan di pelajari dari sejak jaman dulu.

Kualitas kayu dan keaneka ragaman warna motif serat kayu dari pohon setigi jika di amati lebih jauh juga tergantung dari alam tanah tumbuhnya.

Dari segi alam tumbuhnya di tanah pasir pantai karakter kayu serta serat juga warna kayu setigi lebih mempunyai warna yang cerah kuning maupun coklat muda, walaupun ada yang coklat tua namun sangatlah jarang. Ini sering dikenal dengan nama SETIGI LAUT.

Setigi memang banyak ditemukan di daerah pulau-pulau dia bisa tumbuh di tanah pasir pesisir pantai, tanah padat tandus,tanah rawa, tanah berkapur baik di pantai maupun di tebing-tebing pulau.

Pohon setigi yang tumbuh di tanah padat, tandus, berkapur maupun rawa dan lebih mejauh dari kawasan pantai akan menghasilkan batang kayu lebih tua merah kecoklatan,coklat tua bahkan hitam pada dugel kayu setigi mati yang tertimbun tanah puluhan atau mungkin ratusan tahun.

Setigi jenis ini biasa disebut dengan  SETIGI DARAT. Mempunyai massa atau berat yang lebih berbobot dibanding yang tumbuh di pantai serta lebih keras karakter kayunya.Hal ini terjadi pula pada karakter kayu sengon laut dan sengon biasa, kelapa pantai dan kelapa gunung.

Karakter batang kayu setigi yang berkelok atau memutar juga akan menghasilkan motif garis-garis atau orang pulau biasanya menyebutnya "BAREK", BARET,MBARET kekerasan dan kilaunya akan mempunyai motif mata kucing apabila digerak-gerakkan.Ada juga di namakan setigi ular bukan karena ditunggu ular tapi dari motif kayu utuh melingkar garis-garis mirip loreng kulit ular.

Manfaat dari pandangan herbal alternative dan sesepuh, setigi mempunyai manfaat perobatan untuk:

1. Sedot racun ular tau serangga berbisa

2. Pereda sakit gigi dengan cara meminum air rendamannya

3. Sebagai alat pijat refleksi

4. Warisan herbal kuno juga untuk mengobati hewan ternak yang sakit

Last modified on 08 Jan 2017

Mauris blandit aliquet elit, eget tincidunt nibh pulvinar a. Pellentesque in ipsum id orci porta dapibus. Vestibulum ac diam sit amet quam vehicula elementum sed sit amet dui.

Media